Flag Counter

Friday, September 14, 2012

Burung Albatross Jadi Inspirator Pesawat Masa Depan

Burung albatross mampu meluncur ribuan kilometer tanpa mengepakkan sayapnya sama sekali

alabatross,burung,unggasAlbartross (Thinkstockphoto)
 
Kemampuan terbang burung albatross, sejenis burung laut, memberikan inspirasi untuk mendesain pesawat canggih yang mampu terbang efisien.

Dengan metode terbang yang melambung tinggi dinamis, burung yang memiliki lebar sayap 3,7 meter ini mampu terbang ribuan kilometer tanpa mengepakkan sayapnya sama sekali. Maka tak mengherankan albatross dinobatkan sebagai ahlinya penerbangan efisien.

Para peneliti coba menganalisa bagaimana albatross menaikkan tubuhnya secara signifikan. Insinyur Kedirgantaraan Jerman Johannes Traugott dan rekan-rekannya mencoba memetakan pola penerbangan ala Albatross. Burung ini pertama-tama terbang rendah di permukaan, namun tiba-tiba dia menuju ke arah angin untuk mencapai posisi yang lebih tinggi.

Pertama setelah mencapai ketinggian 15 meter, albatross berputar di bawah angin. Lalu meluncur dengan mudahnya untuk kemudian mulai terbang tinggi lagi. Semua ini didukung oleh anatomi albatross yang memungkinkan untuk terbang jauh dan tinggi dengan energi yang efisien.

Dia memiliki otot khusus di masing-masing bahunya. Sehingga burung tersebut bisa mengunci sayapnya di satu posisi. Kualitas anatomi ini sama dengan bagian sayap di pesawat.

"Ada aplikasi yang cocok untuk pesawat terbang yang harus tetap berada di udara selama memungkinkan. Untuk penerbangan yang diperpanjang di mana tujuan utamanya adalah bertahan di udara selama yang Anda bisa," kata Traugott dari Technical University of Munich.

Pengaplikasian proses evolusi ke dalam ilmu teknik disebut biomimikri atau biomimetics.

Biomimikri merupakan ilmu yang menempatkan objek alam, khususnya makhluk hidup sebagai model perancangan dan proses, menirunya dan diaplikasikan dalam teknologi modern.

Janine Benyus, Presiden dari 3,8 Biomimicry Institute mengungkapkan, albatross mampu merasakan perubahan kecil dari tekanan udara dan arah angin. "Agar dapat melakukan hal tersebut, kita membutuhkan sensor yang sangat sensitif pada pesawat masa depan kita," kata Benyus.

Beberapa produsen pesawat terkenal dunia seperti Boeing dan Airbus juga menggunakan biomimikri untuk evolusi industri. Mereka menerapkan cara terbang burung untuk mendesain dan mengembangkan model sayap-sayap pesawat serta menghasilkan sensor yang lebih positif terhadap angin. Dengan begitu maka dapat membuat perjalanan udara di masa depan lebih hemat, bersih,dan cepat.

(Umi Rasmi. Sumber: National Geographic News)

No comments:

Post a Comment